Mencoba Tetap Ok Walau Tanpa ART


Kadang-kadang saya iri dengan cerita 'bahagia' keluarga muda yang bisa dengan mudah menitipkan bayi kecilnya ke orang tua mereka.

Bayangan saya sih, mereka pasti bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan tenang karena buah hatinya berada di tangan yang bisa dipercaya.

Lain ceritanya dengan kami. 

Kedua orang tua istri saya sudah meninggal dan walaupun kedua orang tua saya masih ada, tetapi kesibukan mereka dengan pekerjaan dan proyek-proyek yang terus berdatangan, membuat mereka tak punya cukup waktu untuk menemani putra kami, cucu mereka.

Di satu sisi, saya senang melihat mereka masih aktif di usia yang tak lagi muda. Namun, tidak dipungkiri ada perasaan marah dan kecewa.

Karena dari cerita teman-teman saya, orang tua itu senang sekali menimang cucu. Apalagi cucu pertama. Segalanya tak penting lagi kecuali melihat cucu mereka, bermain bersama dan tertawa bersama.

Ya, setiap keluarga punya ceritanya sendiri. Kebetulan, cerita kami berbeda dengan cerita teman-teman kami. But, that's life.

Ketika ART menjadi opsi

Suka tidak suka, menyewa tenaga Asisten Rumah Tangga (ART) merangkap pengasuh, menjadi opsi yang paling memungkinkan daripada salah satu berhenti bekerja.

Bagai mencari jarum di tumpukan jerami, mendapatkan ART yang 'memenuhi kualifikasi'  tidak mudah.

Maunya sih...kemampuan Nanny, dengan harga ART.

Tapi memang sulit. Akhirnya, kami pun berkompromi dengan standar kami. Yang penting orangnya baik, itu sudah cukup. Karena kami akan menitipkan Bio selama seharian bersamanya.

Cerita tentang ART ini benar-benar 'fantastis' buat saya dan istri saya. Ada 5-6 kali kami gonta-ganti ART. Sampai-sampai orang mengira kalau kami ini terlalu jahat, jadi nggak ada yang kerasan.

Tapi ya...mereka tahu apa sih? 😊

Tahun lalu, tepatnya waktu lebaran...waktunya ART mudik. Saya dan istri saya benar-benar merasakan kebebasan yang nggak pernah kami alami ketika ada ART.

Home sweet home 

Akhirnya terbesit ide untuk memulai hidup mandiri tanpa ART. Semua opsi kami kumpulkan dan pertimbangkan plus-minusnya, apa konsekuensinya, dan apakah kami mampu menanggungnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak lama setelah lebaran, mbak ART terakhir kami kembali bekerja. Namun, selang beberapa bulan kemudian ia mohon pamit pulang karena mau menikah dan nggak balik lagi.

This is it. Keragu-raguan kami tentang apakah kami siap hidup hanya bertiga dijawab Allah dengan menempatkan kami pada situasi tersebut. Dan, setelah menimbang-nimbang akhirnya, Bismillah, kami pun mantap memutuskan hidup tanpa ART.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami antara lain,

  1. Ada orang yang bisa kami percaya untuk menjaga Bio. Bahkan, ia sudah seperti orang tua bagi kami dan menganggap Bio bak cucunya sendiri.
  2. Kami 'cukup' mampu mengurus Bio sendiri, mulai mandiin, nyuapin, hingga menemaninya bermain (dulu saya cuma bisa di bagian mainnya aja sih). Terlebih Bio juga sudah cukup besar dan Alhamdulillah bisa diajak kerja sama.
  3. Kami bisa mengurus rumah sendiri, karena rumah kontrakan kami yang baru nggak terlalu besar. Jadi, cukup simpel dibersihin. Pelajaran juga kalau nanti cari rumah, jangan yang besar-besar biar nggak susah ngerawatnya.
  4. Kami mendambakan kebebasan untuk menjadi diri sendiri di rumah kami. Tanpa orang luar walaupun mereka itu baik.


Alhamdulillah sudah hampir setahun kami menjalani kehidupan sehari-hari tanpa ART. And it's awesome.

Tentunya ada beberapa perubahan, atau lebih tepatnya penyesuaian gaya hidup. Termasuk di dalamnya investasi yang kami lakukan. Beberapa di antaranya,

  1. Menurunkan standar. Kalau biasanya rumah selalu bersih dengan adanya ART (kalau kebetulan ART-nya resikan), kami pun mencoba nggak terlalu perfeksionis dalam hal yang satu ini. Untungnya rumah kami ngga besar-besar amat, dan barang kami nggak terlalu banyak, jadi memudahkan proses bersih-bersih.
  2. Bagi tugas. Papa, mommy, dan Bio...semuanya kebagian tugas buat mengerjakan pekerjaan rumah. Saya dan istri saya pun lumayan bisa saling back up dan gantian ngerjain salah satu kerjaan rumah (misal : seterika atau cuci piring).
  3. Berinvestasi dalam barang-barang yang membantu kami menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah. Seperti mesin cuci, vacuum cleaner, dan water heater. 
  4. Kami juga mulai berlangganan TV kabel, sekadar untuk self reward saat kami selesai beres-beres rumah. Pertimbangannya daripada nonton acara TV yang serba nggak jelas dan nggak mendidik, aja kok.


Memang, awal-awalnya sih susah. Tapi lebih karena belum terbiasa saja. Lama-lama, we've figured it out.

Mungkin seperti kata pepatah: awalnya terpaksa jadi bisa, lama-lama biasa (ada nggak sih pepatah kaya gini?).

Bagaimana denganmu? Seperti apa sih cerita perjalananmu bersama ART? Mind to share?

Share:

0 Comments: