Sumpeknya Ketika Nggak Ada Bahan Untuk Ditulis

Mau Nulis Apa Lagi?



Sebagaimana sudah dijanjikan sama para blogger senior, ternyata memang bener, ngeblog itu butuh konsisten yang sayangnya...sulit dilakukan.

Awal-awal sih waktu semangat masih membara, posting sehari 2x mah receh. Namun, lambat laun frekuensi updatenya mulai berkurang...dan terus berkurang, hingga tiba-tiba, blognya berubah fungsi jadi rumah koloni laba-laba.

Ngeblog itu 80% aktivitasnya nulis. Jadi, nggak heran kalau masalah-masalah yang dialami penulis, juga dialami oleh seorang narablog (sebutan untuk blogger).

Masalah paling pelik dari seorang penulis tak lain dan tak bukan adalah writer's block.

Gak baca gak papa : Fumio Sasaki

Sebuah kondisi di mana seorang penulis udah mentok njedok tembok, nggak ada ide dan bahan, buat ditulis.

Terlepas dari apakah writer's block itu mitos atau fakta, saya sendiri juga beberapa kali ngerasain buntu, nggak ada lagi yang bisa ditulis. Well, mungkin lebih tepatnya...nggak ada topik yang layak ditulis supaya bisa dibagikan dan layak dibaca.

Karena sebenarnya, kalau sekedar nulis, apa pun bisa ditulis.

Sayanya aja yang terlalu nggethu mikirin nasib tulisan itu setelah diposting. Ada yang baca apa nggak, ada yang suka apa nggak, bermanfaat apa nggak, bakal viral apa nggak.

Jangan-jangan, tulisan saya jelek, nggak ada yang suka, nggak berfaedah, dangkal, dan jangan-jangan lainnya.

Mungkin efek dari keseringan makan jangan (jangan asem, jangan bening, jangan lodeh, dll) akhirnya dikit-dikit yang dipikirin itu jangan.

Alhasil...ya nggak ada hasil.

Ngomong-ngomong soal kesulitan nulis, kalau saya ada tiga macam kesulitan yang sering saya alami ketika menulis.


Sulit Mulai

Penyakit seorang penulis biasanya adalah kecenderungan perfeksionis.

Nah, sepertinya saya pun ketularan penyakit ini sejak aktif nulis di 2014 silam.

Nulis belum selesai satu kalimat, udah dihapus. Ganti yang baru, tapi sama juga, belum selesai udah dihapus. Nggak terasa, dari Adzan Dhuhur sampai Adzan Maghrib yang ada di layar cuma kursor kelap-kelip tanpa ada satu huruf pun.

Ya kalau nulis buat blog sendiri, nggak ada yang nguber-nguber. Lah kalau nulis buat klien, apa nggak tambah sumpek itu.

Sulit Ngelanjutin

Ada momen-momen tertentu di mana ide itu ngalir sederas aliran Niagara Fall. Dan seketika itu pula macet.

Bingung mau ditambahin apa lagi, lah wong targetnya minimal 500 kata, macet di Km 450.

Berhenti nanggung, mau dilanjut ya nggak bisa. Sedih kan kalau kaya gini ini?

Sulit Berhenti

Saya nggak tahu yang kaya gini ini berkah apa musibah. Mendadak otak jadi encer dan ide terus mengalir tanpa berhenti.

Target minimal 500 kata, eh sekarang udah dapat 876 kata dan masih terus berlanjut.

Enaknya target jumlah kata terpenuhi. Yang jadi soal, kualitasnya gimana?

Nulis puanjang nggak karuan tapi isinya muter-muter nggak jelas. Apa yang sudah dibahas, dibahas lagi.

Kalau sudah kaya gini, yang kasihan itu pembacanya. Udah ngeluangin waktu dan atensinya untuk membaca tulisan yang nggak berfaedah buat dia.

Masih tega kah kita mengharap dia kasih komentar atau nge-share tulisan kita kalau kaya gini?



Kualitas tulisanmu adalah cerminan kualitas bacaanmu

Jadi, sesuai janji memang. Bikin blog itu mudah. Yang susah itu menjaga konsistensi untuk terus menyajikan konten-konten berkualitas dan sarat akan manfaat buat pembaca.

Seperti halnya orang berbisnis. Ada yang sulit mulai, ada yang sulit melanjutkan, dan ada pula yang sulit berhenti sekalipun neraca keuangannya negatif mulu.

Apakah kamu juga mengalami kesulitan yang sama? Atau hidupmu lebih menderita dibandingkan masalah yang saya alami untuk ngupdate blog?

Please share pengalaman dan opinimu ya.


Share:

0 Comments: